Kategori
Tak Berkategori

Intoleransi Bukan Lagi Sekedar Perbedaan Pandangan,tetapi Ancaman Kebersamaan Kita

Di tengah keberagaman Indonesia yang begitu luas, intoleransi masih menjadi batu besar yang menghalangi langkah kita menuju masyarakat yang benar-benar damai. Indonesia dikenal sebagai negara dengan ratusan bahasa, puluhan budaya, beragam agama, dan adat istiadat. Namun ironisnya, keberagaman itu sering kali justru memicu gesekan ketika sikap intoleransi muncul dan membiarkan prasangka mengambil alih akal sehat.

Intoleransi bukan hanya soal menolak keberadaan kelompok tertentu. Ia bisa hadir dalam bentuk komentar sinis, penolakan halus, atau perlakuan tidak adil yang dianggap sepele padahal menyakitkan. Misalnya, menghindari seseorang karena berbeda keyakinan, meremehkan pendapat orang lain karena identitasnya, atau menyebarkan stereotip yang memperburuk hubungan antarkelompok. Sikap-sikap kecil seperti ini sering dilihat sebagai hal biasa, padahal merupakan benih dari konflik besar.

Fenomena intoleransi juga makin nyata di dunia digital. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi informasi, sering kali berubah menjadi arena pertempuran opini. Banyak orang dengan mudah menghakimi tanpa mencari fakta, menyebarkan ujaran kebencian hanya berdasarkan potongan video atau tulisan yang tidak lengkap. Kebebasan berekspresi seolah dijadikan alasan untuk menyerang orang lain. Padahal, kebebasan tidak pernah berarti bebas melukai.

Intoleransi tumbuh subur ketika empati hilang. Ketika kita merasa kelompok kita paling benar, paling berhak, dan paling patut didengar, maka ruang dialog akan tertutup. Kita begitu sibuk membela identitas sehingga lupa bahwa pada dasarnya kita semua manusia yang ingin dihargai, dihormati, dan diperlakukan adil. Jika setiap orang menganggap dirinya pemilik kebenaran, lalu siapa yang akan mendengarkan?

Dalam kehidupan sosial, intoleransi tidak pernah membawa kebaikan. Ia melahirkan ketakutan, memecah persatuan, dan menimbulkan jarak antarwarga. Bayangkan sebuah lingkungan di mana orang-orang takut mengutarakan pendapat karena berbeda pandangan. Atau sebuah sekolah di mana siswa saling menjauhi hanya karena identitas keluarga mereka berbeda. Ini bukan sekadar masalah moral, tetapi masalah masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan intoleran akan sulit menerima perbedaan dan cenderung mengulang pola diskriminatif di masa dewasa.

Namun, mengatasi intoleransi bukan berarti memaksa semua orang untuk sama. Justru sebaliknya, kita harus belajar menerima bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan sehat. Perbedaan sudut pandang bukan alasan untuk bermusuhan. Indonesia bisa maju bukan karena kita seragam, tetapi karena kita bersedia bekerja sama meski tidak selalu sepakat.

Gerakan anti intoleransi harus dimulai dari hal yang paling sederhana: cara kita berbicara, cara kita mendengarkan, dan cara kita memperlakukan orang lain. Menghargai pendapat berbeda, menahan diri dari komentar merendahkan, serta tidak ikut menyebarkan informasi yang berpotensi memicu kebencian adalah langkah kecil namun penting. Jika setiap orang melakukan hal kecil ini, dampaknya akan terasa besar bagi kehidupan bersama.

Generasi muda memiliki peran besar dalam membangun budaya toleransi. Mereka tumbuh di era ketika informasi mengalir cepat, sehingga lebih mudah mengenal perbedaan. Namun generasi muda juga rentan terseret arus provokasi digital. Karena itu, penting bagi mereka untuk memiliki literasi kritis: tidak mudah terpancing, berani mengecek fakta, dan mampu melihat manusia di balik perbedaan identitas.

Pada akhirnya, intoleransi bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain, tetapi tentang bagaimana kita melihat dunia. Apakah kita memilih ketakutan atau memilih keterbukaan? Apakah kita memilih dinding atau memilih jembatan? Indonesia terlalu berharga untuk dibiarkan retak hanya karena kita gagal memahami satu sama lain.

Jika setiap individu bersedia memulai dari diri sendiri bersikap adil, terbuka, dan penuh empati maka intoleransi bukan lagi momok menakutkan, melainkan tantangan yang bisa kita lalui bersama. Dan ketika itu terjadi, Indonesia tidak hanya menjadi negara yang beragam, tetapi juga negara yang benar-benar menghargai keberagaman.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kategori
Tak Berkategori

Ribaan Rapuh

Sumatera adalah pangkuan yang penuh dengan kisah-kisah nenek moyang tentang bukit yang magis, sungai yang kuno setua nadi bumi ini, hutan yang debarannya menghidupi seluruh makhluk. Kisah tentang Sumatera adalah keberkahan tanah yang subur, filosofi yang mendalam tentang manusia dan bagaimana mereka hidup di dalam kosmos ini.

Namun, ternyata keindahan alam dan keberagaman budaya di Sumatera sejatinya adalah keberadaan yang rapuh, kebencanaan ekologis yang tengah terjadi menguak kerentanan itu.

Saras Dewi *** Local Caption *** Analisis Budaya

SALOMO TOBING
Saras Dewi

Menyaksikan bencana yang terjadi di Pulau Sumatera, yang menimpa Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah duka bagi bangsa, suatu tragedi nasional yang menyibak kegagapan sistemik dalam menghadapi kebencanaan. Curah hujan ekstrem telah menyebabkan terjangan banjir bandang dan juga tanah longsor yang menyebabkan penderitaan dan kematian warga. Bahkan, beberapa dusun lenyap tertimbun hingga sekarang belum ditemukan jasad korban-korbannya. Desa-desa terendam air, jembatan roboh, jalanan patah, listrik terputus, masyarakat tidak berdaya dan berada dalam bayang-bayang kelaparan dikarenakan akses yang terputus.

Laporan BNPB pada 5 Desember 2025 menyebut, dari rekapitulasi dampak bencana dinyatakan bahwa 836 jiwa tercatat sebagai korban meninggal, kemudian 509 jiwa dinyatakan masih hilang dalam pencarian, sedangkan 2.700 jiwa korban terluka fisik dikarenakan bencana.

Nyatanya, kebencanaan terkait cuaca yang ekstrem belum berhenti, BMKG melancarkan berita kewaspadaan bahwa sampai beberapa pekan ke depan, masih terdapat ancaman hujan ekstrem, angin kencang, dan puting beliung. Lembaga tersebut bahkan mengatakan bahwa ada beberapa wilayah di Indonesia yang perlu berjaga-jaga terkait pembentukan bibit siklon. Walaupun Indonesia tidak berada pada lintasan siklon, anomali cuaca seperti yang terjadi dengan siklon Senyar mungkin dapat terjadi lagi.

Alasan kesukaran untuk menjangkau titik-titik bencana, disebabkan oleh tertutupnya akses jalan menuju tempat tersebut, seperti yang terjadi di wilayah Bener Meriah, Aceh, yang membuat warga terisolasi dan bantuan harus dikirimkan lewat jalur udara. Meskipun sudah dilakukan upaya pembukaan jalan dengan membersihkan timbunan lumpur dan batu, seperti di Sumatera Utara jalur dari Medan menuju Tapanuli Tengah hingga Sibolga, jalanan tetap berisiko tinggi sebab banyak akses jalan separuhnya ambles. Dengan kondisi yang terus diguyur hujan semakin membuat jalan-jalan ini riskan terjadi longsor susulan.

Saat mengantarkan bantuan logistik yang disumbangkan Universitas Indonesia, saya dan tim yang terdiri dari gabungan kolaborasi pengabdian masyarakat UI, Universitas Sumatera Utara, fakultas keperawatan, dan PPNI Medan, menjumpai medan yang cukup berat. Jalur Medan menuju Sibolga yang lazimnya ditempuh 8 jam dalam situasi normal, semasa bencana ini menghabiskan waktu lebih dari 15 jam dengan jalanan yang retak, patah, dan keropos pinggirannya.

Iklan
Iklan

Mulai memasuki wilayah Pakkat, jalur semakin pelik dengan gunungan lumpur, tiang listrik yang roboh, juga bekas-bekas batang pohon. Sesampainya di Barus, penderitaan warga terlihat amat menyayat, kota mereka luluh lantak, wajah mereka murung sambil berdiri di depan rumah mereka yang rusak bekas terendam air yang juga membawa tanah yang kini mengeras.

Begitu pula ketika sampai di Sorkam, Tapanuli Tengah, kami tiba menjelang matahari terbenam, dapat terlihat dari sudut pandang di jembatan bekas lintasan dahsyatnya aliran sungai yang meluap, bahkan batang-batang kayu itu masih tersangkut di jembatan. Di kota itu juga raut warga tampak penuh nestapa sambil mempersiapkan masakan di dapur umum, dengan situasi remang-remang dan kaki penuh lumpur mereka mempersiapkan makanan untuk segenap warga.

”Hancur aku semua, hancur semua… kuminta doa untuk anak-anakku agar sampai bersama Tuhan….”

Di Sibolga saya berjumpa dengan para pengungsi dari bukit, salah satunya adalah Damerius Situmeang, perempuan berusia 33 tahun, ia bercerita sambil menggenggam erat jemari putrinya. Ia mengatakan bahwa anak mungil itu satu-satunya putrinya yang selamat dari longsor, tiga anak lainnya, termasuk bayi berusia 6 bulan, telah meninggal. Ia berkata dengan air mata yang mengalir, ”Hancur aku semua, hancur semua… kuminta doa untuk anak-anakku agar sampai bersama Tuhan….”

Kesengsaraan warga yang dirundung bencana ini amat memilukan. Namun, bencana ini tidak sepenuhnya dikarenakan amukan alam. Justru fakta-fakta yang penting untuk digarisbawahi adalah bagaimana kebencanaan ini amat terhubung dengan deforestasi hutan yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera.

Dalam siaran persnya, Walhimenyatakan temuan bahwa di wilayah Sumatera Utara telah terjadi deforestasi sebesar 72.938 hektar pada rentang tahun 2016-2024. Hilangnya fungsi resapan air di hutan sebagai hulu membuat air hujan yang turun deras menuju hilir menjadi malapetaka yang mengerikan. Hutan di wilayah Sumatera Utara, seperti ekosistem Harangan Tapanuli dan Batang Toru, adalah penyangga penting yang dapat menghindarkan banjir dan erosi. Lebih lanjut lagi, laporan itu mengungkap bahwa kerusakan hutan terus terjadi karena alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, tambang, dan juga geotermal.

Melihat secara langsung onggokan kayu-kayu yang terseret, begitu pula tampak pada sebagian batang kayu itu digoreskan nomor oleh para penebangnya. Saya teringat apa yang disampaikan filsuf dari Inggris, Timothy Morton, tentang hiperobjek bahwa krisis iklim adalah permasalahan yang begitu besar yang amat sulit dicerna secara utuh, hingga pada titik kebencanaan itu melanda dan mengakibatkan petaka. Mitigasi dan adaptasi di masa krisis iklim sangat bergantung pada hutan, hutan adalah ribaan yang melindungi segala. Sambil menatap pohon torop yang menjulang menggapai langit di Tapanuli Tengah, saya membatin bahwa keselamatan kita semua bergantung pada pohon-pohon ini.

Kategori
Tak Berkategori

Mengukir Masa Depan Gemilang: Pentingnya Hidup Sehat Bagi Anak Sekolah di Lingkungan Cikembulan

CIKEMBULAN, [5 Desember 2025] – Kesehatan adalah aset paling berharga, terutama bagi anak-anak usia sekolah yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Dalam beberapa waktu terakhir, kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat bagi siswa di lingkungan [Sebutkan Nama Lingkungan/Kecamatan, contoh: Cikembulan] terus menjadi sorotan utama.

Anak-anak sekolah tidak hanya membutuhkan nutrisi yang cukup, tetapi juga lingkungan yang mendukung untuk tumbuh sehat—baik fisik maupun mental. Para ahli pendidikan dan kesehatan menekankan bahwa lingkungan sekitar memainkan peran krusial dalam membentuk kebiasaan sehat siswa.

Peran Lingkungan dalam Pembentukan Karakter Sehat

Kepala [Sebutkan Instansi/Sekolah, contoh: MI Cikembulan], Bapak/Ibu [Nama Kepala], menyatakan bahwa pola hidup sehat harus dimulai sejak dini dan didukung oleh ekosistem di sekitarnya.

“Di madrasah, kami mengajarkan pentingnya gizi seimbang dan kebersihan diri. Namun, upaya ini akan lebih optimal jika didukung oleh masyarakat, terutama dalam menyediakan pilihan makanan yang sehat di kantin sekolah dan warung sekitar, serta memastikan lingkungan yang bersih dari sampah,” ujarnya.

Beberapa aspek penting dari hidup sehat bagi anak sekolah meliputi:

  • Peningkatan Konsentrasi Belajar: Asupan gizi yang baik, terutama sarapan, terbukti meningkatkan fokus dan daya tangkap anak di kelas.

  • Imunitas Tubuh yang Kuat: Anak yang sehat jarang sakit, sehingga dapat mengikuti pelajaran secara maksimal tanpa banyak absen.

  • Kesehatan Mental dan Emosional: Aktivitas fisik teratur, seperti bermain atau berolahraga, sangat efektif dalam mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati.