Ribaan Rapuh

Ditulis oleh : 

06_Liburan Semester Ganjil 2022-01

Sumatera adalah pangkuan yang penuh dengan kisah-kisah nenek moyang tentang bukit yang magis, sungai yang kuno setua nadi bumi ini, hutan yang debarannya menghidupi seluruh makhluk. Kisah tentang Sumatera adalah keberkahan tanah yang subur, filosofi yang mendalam tentang manusia dan bagaimana mereka hidup di dalam kosmos ini.

Namun, ternyata keindahan alam dan keberagaman budaya di Sumatera sejatinya adalah keberadaan yang rapuh, kebencanaan ekologis yang tengah terjadi menguak kerentanan itu.

Saras Dewi *** Local Caption *** Analisis Budaya

SALOMO TOBING
Saras Dewi

Menyaksikan bencana yang terjadi di Pulau Sumatera, yang menimpa Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah duka bagi bangsa, suatu tragedi nasional yang menyibak kegagapan sistemik dalam menghadapi kebencanaan. Curah hujan ekstrem telah menyebabkan terjangan banjir bandang dan juga tanah longsor yang menyebabkan penderitaan dan kematian warga. Bahkan, beberapa dusun lenyap tertimbun hingga sekarang belum ditemukan jasad korban-korbannya. Desa-desa terendam air, jembatan roboh, jalanan patah, listrik terputus, masyarakat tidak berdaya dan berada dalam bayang-bayang kelaparan dikarenakan akses yang terputus.

Laporan BNPB pada 5 Desember 2025 menyebut, dari rekapitulasi dampak bencana dinyatakan bahwa 836 jiwa tercatat sebagai korban meninggal, kemudian 509 jiwa dinyatakan masih hilang dalam pencarian, sedangkan 2.700 jiwa korban terluka fisik dikarenakan bencana.

Nyatanya, kebencanaan terkait cuaca yang ekstrem belum berhenti, BMKG melancarkan berita kewaspadaan bahwa sampai beberapa pekan ke depan, masih terdapat ancaman hujan ekstrem, angin kencang, dan puting beliung. Lembaga tersebut bahkan mengatakan bahwa ada beberapa wilayah di Indonesia yang perlu berjaga-jaga terkait pembentukan bibit siklon. Walaupun Indonesia tidak berada pada lintasan siklon, anomali cuaca seperti yang terjadi dengan siklon Senyar mungkin dapat terjadi lagi.

Alasan kesukaran untuk menjangkau titik-titik bencana, disebabkan oleh tertutupnya akses jalan menuju tempat tersebut, seperti yang terjadi di wilayah Bener Meriah, Aceh, yang membuat warga terisolasi dan bantuan harus dikirimkan lewat jalur udara. Meskipun sudah dilakukan upaya pembukaan jalan dengan membersihkan timbunan lumpur dan batu, seperti di Sumatera Utara jalur dari Medan menuju Tapanuli Tengah hingga Sibolga, jalanan tetap berisiko tinggi sebab banyak akses jalan separuhnya ambles. Dengan kondisi yang terus diguyur hujan semakin membuat jalan-jalan ini riskan terjadi longsor susulan.

Saat mengantarkan bantuan logistik yang disumbangkan Universitas Indonesia, saya dan tim yang terdiri dari gabungan kolaborasi pengabdian masyarakat UI, Universitas Sumatera Utara, fakultas keperawatan, dan PPNI Medan, menjumpai medan yang cukup berat. Jalur Medan menuju Sibolga yang lazimnya ditempuh 8 jam dalam situasi normal, semasa bencana ini menghabiskan waktu lebih dari 15 jam dengan jalanan yang retak, patah, dan keropos pinggirannya.

Iklan
Iklan

Mulai memasuki wilayah Pakkat, jalur semakin pelik dengan gunungan lumpur, tiang listrik yang roboh, juga bekas-bekas batang pohon. Sesampainya di Barus, penderitaan warga terlihat amat menyayat, kota mereka luluh lantak, wajah mereka murung sambil berdiri di depan rumah mereka yang rusak bekas terendam air yang juga membawa tanah yang kini mengeras.

Begitu pula ketika sampai di Sorkam, Tapanuli Tengah, kami tiba menjelang matahari terbenam, dapat terlihat dari sudut pandang di jembatan bekas lintasan dahsyatnya aliran sungai yang meluap, bahkan batang-batang kayu itu masih tersangkut di jembatan. Di kota itu juga raut warga tampak penuh nestapa sambil mempersiapkan masakan di dapur umum, dengan situasi remang-remang dan kaki penuh lumpur mereka mempersiapkan makanan untuk segenap warga.

”Hancur aku semua, hancur semua… kuminta doa untuk anak-anakku agar sampai bersama Tuhan….”

Di Sibolga saya berjumpa dengan para pengungsi dari bukit, salah satunya adalah Damerius Situmeang, perempuan berusia 33 tahun, ia bercerita sambil menggenggam erat jemari putrinya. Ia mengatakan bahwa anak mungil itu satu-satunya putrinya yang selamat dari longsor, tiga anak lainnya, termasuk bayi berusia 6 bulan, telah meninggal. Ia berkata dengan air mata yang mengalir, ”Hancur aku semua, hancur semua… kuminta doa untuk anak-anakku agar sampai bersama Tuhan….”

Kesengsaraan warga yang dirundung bencana ini amat memilukan. Namun, bencana ini tidak sepenuhnya dikarenakan amukan alam. Justru fakta-fakta yang penting untuk digarisbawahi adalah bagaimana kebencanaan ini amat terhubung dengan deforestasi hutan yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera.

Dalam siaran persnya, Walhimenyatakan temuan bahwa di wilayah Sumatera Utara telah terjadi deforestasi sebesar 72.938 hektar pada rentang tahun 2016-2024. Hilangnya fungsi resapan air di hutan sebagai hulu membuat air hujan yang turun deras menuju hilir menjadi malapetaka yang mengerikan. Hutan di wilayah Sumatera Utara, seperti ekosistem Harangan Tapanuli dan Batang Toru, adalah penyangga penting yang dapat menghindarkan banjir dan erosi. Lebih lanjut lagi, laporan itu mengungkap bahwa kerusakan hutan terus terjadi karena alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, tambang, dan juga geotermal.

Melihat secara langsung onggokan kayu-kayu yang terseret, begitu pula tampak pada sebagian batang kayu itu digoreskan nomor oleh para penebangnya. Saya teringat apa yang disampaikan filsuf dari Inggris, Timothy Morton, tentang hiperobjek bahwa krisis iklim adalah permasalahan yang begitu besar yang amat sulit dicerna secara utuh, hingga pada titik kebencanaan itu melanda dan mengakibatkan petaka. Mitigasi dan adaptasi di masa krisis iklim sangat bergantung pada hutan, hutan adalah ribaan yang melindungi segala. Sambil menatap pohon torop yang menjulang menggapai langit di Tapanuli Tengah, saya membatin bahwa keselamatan kita semua bergantung pada pohon-pohon ini.

Bagikan Ke :